Wikipedia

Hasil penelusuran

Sabtu, 03 Maret 2012

hari dan malam

Mencoba melewati satu cerita hari yang berat, ku hindari semua dengan menyibukan diri dengan hal apapun. Aku hanya ingin sibuk, ingin bergerak, ingin berlari, hingga tidak lagi mengingat tentang apa, siapa,bagaimana, bla...bla..bla...
Aku hampiri tempat yang mungkin bisa membuat aku tenang. Terlihat beberapa orang sedang berkumpul dan bersenda gurau, ya mungkin mereka mempunyai tujuan yang sama denganku. Ku hampiri lemari pendingin yg besar itu, sejenak ku berfikir dan aku rasa aku membutuhkan itu. Sebatang rokok coba untuk mengawali malam gelisah ini, bersama minuman yang ku beli dan berharap dapat membuat pikiranku lebih santai. Baru saja waktu bergeser seperempat jam, aku cari cara lain untuk membuat  senang-senang. Wanita bertubuh putih itu ada tepat d depanku, dengan rambut panjang terurai dan natural makeup aku terus perhatikan. Bukan hanya wanita itu menjadi tujuanku, aku ingin malam ini ada hal yang lebih seru lagi. Berharap sang pacar merasa tidak senang dan mendatangiku dan bertanya apa maksudku memandangi terus kekasihnya. Sebuah botol sudah aku siapkanbiar sekalian saja ku pecahkan kepalanya. Ternyata tidak ada respon apa2 dari sang pejantan itu. Tanpa sadar satu bungkus rokok dan sebotol besar sudah habis, tapi aku masih belum  mengakhiri malam ini, masih sangat ingin menikmati malam yang panjang ini.

Jumat, 02 Maret 2012

Diam


Ini hari kedua aku makin merasa sendiri, di hakimi oleh sebuah rasa. Ya rasa yang sangt besar, seakan mengoyak hati ini. Kalau saja aku boleh memilih aku mau menghempaskan semuanya kedalam jurang yang tidak berunjung, akan kubawa diri ini di dalamnya.
Teriak saja kalau perlu, tapi jangan sampe orang tahu. Biar orang melihat senyum ini selalu melebar, biar saja orang selalu melihat suara ini tertawa. Diam memang lebih baik dan itu yang aku pilih untuk melewati semua ini. Aku memang sudah tidak mempunyai pilihan, aku hampir kehabisan cara untuk menyatakan semua ini. Dan sekarang aku memilih untuk diam berkata, diam mengungkapkan sesuatu, diam merasakan, itulah yang aku pilih entah sampai kapan aku harus terdiam.
Biar lah sekarang  aku keluar dari peran ini.mungkin memang saatnya aku menjadi penonton. Agar aku lebih tau dan mengerti.

#Aku yang terdiam

Kamis, 01 Maret 2012

Dia dan Rasa


#satu maret

Walaupun settingan di kalender laptop ini delay satu angka, tapi gak bisa di pungkiri beberapa detik yang lalu angka tunggal nan esa muncul. Entah aku begitu bersemangat melihat tanggal satu, terlebih bulan maret ini tiba-tiba diprediksi akan aku temui banyak hal besar dan akan aku beranikan diri untuk menyentuh hal besar.

Maret lebih dekat dengan rasa

Saat aku sedang menulis ini, berbarengan dengan aku mengetikan beberapa pesan singkat dan membalas pesan singkat dari sang pacar yang protes atas apa yang aku perbuat. Aku seakan menganggapnya tak ada karena kesibukan dan agenda-agendaku. Dia kesal karena aku belum juga mengagendakan waktu untuknya. Menurutnya aku tak mementingkannya lagi. dia butuh aku, orang yang dia harap bisa mengerti.

Aku ini baru saja kembali dari aktifitas, terlalu larut menurutku aku tiba di rumah. lalu tanpa jeda mendapat demonstrasi. Jika aku tanggapi, bukan pendemo yang bakar ban, tapi aku yang lempar boom pada pendemo ini. Maaf aku sedang  ingin berdamai dengan rasaku sendiri. Aku sedang tak ingin mendapat protes tentang rasa. Aku sedang ingin mengegoiskan rasa tanpa harus memikirkan kamu yang jauh, hei. Aku sedang tak ingin mengenal Long Distance yang selama ini menjadi teman baik. Oyah hari ini tepat tiga tahun kita terikat, ya terikat dalam hubungan jarak Bandung-Jakarta. Tapi maaf hari ini aku sedang tak ingin membicarakan jarak yang selama ini baik-baik saja. Kamu rindu aku. kenapa aku pun tak lagi rasakan hal yang sama hari ini? Mungkin jika kamu baca tulisanku ini, aku yakin kamu kecewa, dan aku sedang tak ingin menutup diri untuk tidak mengecewakanmu. Mungkin jika kamu sudah membaca ini, kamu akan semakin marah, dan aku sedang tak ingin membuatmu menahan marah padaku. mungkin saat kamu sedang marah, kamu tak bisa hubungi aku, dan maaf aku sedang tak ingin di hubungi untuk membicarakan ini. Harapanmu tentang aku yang bisa mengerti kamu saat ini, akan menjadi kesalahan terbesarmu, aku sama sekali sedang tak ingin mengerti apapun kecuali kamu ada di depan mukaku lalu coret hubungan jarak jauh ini.

Mau gak mau, hubungan ini pasti ada masa kadaluarsa. Dan aku rasa, sudah waktunya hubungan ini mendapat kontrol. Panjang jika harus aku bahas manisnya tiga tahun kebelakang. Dan singkat saja saat ini aku merasa harus membuka logika. Bukan masalah komunikasi, tapi ini semua tentang komunikasi. Bukan masalah jauh, tapi kita ini berjarak. Bukan masalah waktu, tapi kita ini dipertemukan hanya satu bulan sekali tak pasti. Bukan masalah baiknya aku atau kamu, tapi tentang adanya aku atau kamu saat masing-masing membutuhkan sosok.

Aku simpulkan bulan maret ini bukan untuk kita. Bagaimana jika kita berjalan dengan agenda masing-masing saja. Kamu bekerja untuk perbaiki beberapa masalahmu. Kamu selesaikan sidangmu yang tertunda terus tertunda. Kamu dekatkan diri dengan orang-orang sekitarmu, orang terdekat bukan orang berjarak seperti denganku.

Aku akan berjalan dengan agenda pencaharianku, beberapa pekerjaan yang menurutku menarik, lebih menarik dari soal cipularang dengan hujan lebat menyeramkan. Aku akan membuat banyak agenda dengan kawanan penulis dan perupa yang ada dalam satu project ke depan. Aku akan curahkan pikiranku untuk menyusun sejarah lima tahunku di bangku kuliah, aku akan mengikuti kelas-kelas dengan banyak teori yang aku tinggalkan dulu. Aku akan bertemu dengan orang-orang baru dan berinteraksi lebih “intim”  dengan mereka. Aku ingin lebih dekat dengan rasaku sendiri. Mengenal apa yang aku mau, mengejar apa yang aku mau, melihat banyak manusia baru, merasakan banyak hal baru tanpa beban pikirkan kamu. Ya aku pikirkan kamu selama ini, bagaimana menjaga kamu dalam ratusan kilometer.

Terimakasih kamu sudah belajar marah padaku, karena itu sebuah kenormalan. Maaf jika kemarahanmu hanya aku respon lewat tulisan, karena aku perempuan sulit sembunyikan kesedihan.

#tulisan satu untuk bulan kelabu, malam ini 1 maret 2012


(ini adalah ungkapan wanita yang selama 3 tahun ini mendampingi w. walau memang w diposisi tidak selalu di sampingnya. Segitunya kah hubungan ini membuat dia merasa seperti itu. Memang salah klo w mempertahankan hubungan yang dah w janjikan sama diri w. memang salah harus dibatasi oleh jarak, memang salah jika kita mencintai orang yang jauhnya ratusan kilometer itu????)

Entah !!!
Ya cinta memang harus d pertanggung jawabkan, dan banyak pula cara untuk mempertanggung jawabkanya. Mungkin memang terlihat salah di beberapa bagian, tapi apakah sekecil itu rasa yang di berikan Tuhan sama kita. Apakah pembatasan itu pula membatasi semuanya, entah. Ya hubungan kita memang terlalu mudah pada awalnya. Tp ingatkah kita sudah sama-sama berjanji di awal, kita bisa menjaga semuanya. Bukan hanya untuk sebuah rasa, dan tanpa membatasi rasa itu sendiri.