#satu maret
Walaupun settingan di kalender laptop ini delay satu angka,
tapi gak bisa di pungkiri beberapa detik yang lalu angka tunggal nan esa
muncul. Entah aku begitu bersemangat melihat tanggal satu, terlebih bulan maret
ini tiba-tiba diprediksi akan aku temui banyak hal besar dan akan aku beranikan
diri untuk menyentuh hal besar.
Maret lebih dekat dengan rasa
Saat aku sedang menulis ini, berbarengan dengan aku
mengetikan beberapa pesan singkat dan membalas pesan singkat dari sang pacar
yang protes atas apa yang aku perbuat. Aku seakan menganggapnya tak ada karena
kesibukan dan agenda-agendaku. Dia kesal karena aku belum juga mengagendakan
waktu untuknya. Menurutnya aku tak mementingkannya lagi. dia butuh aku, orang
yang dia harap bisa mengerti.
Aku ini baru saja kembali dari aktifitas, terlalu larut
menurutku aku tiba di rumah. lalu tanpa jeda mendapat demonstrasi. Jika aku
tanggapi, bukan pendemo yang bakar ban, tapi aku yang lempar boom pada pendemo
ini. Maaf aku sedang ingin berdamai
dengan rasaku sendiri. Aku sedang tak ingin mendapat protes tentang rasa. Aku
sedang ingin mengegoiskan rasa tanpa harus memikirkan kamu yang jauh, hei. Aku
sedang tak ingin mengenal Long Distance yang selama ini menjadi teman baik.
Oyah hari ini tepat tiga tahun kita terikat, ya terikat dalam hubungan jarak
Bandung-Jakarta. Tapi maaf hari ini aku sedang tak ingin membicarakan jarak
yang selama ini baik-baik saja. Kamu rindu aku. kenapa aku pun tak lagi rasakan
hal yang sama hari ini? Mungkin jika kamu baca tulisanku ini, aku yakin kamu
kecewa, dan aku sedang tak ingin menutup diri untuk tidak mengecewakanmu.
Mungkin jika kamu sudah membaca ini, kamu akan semakin marah, dan aku sedang
tak ingin membuatmu menahan marah padaku. mungkin saat kamu sedang marah, kamu
tak bisa hubungi aku, dan maaf aku sedang tak ingin di hubungi untuk
membicarakan ini. Harapanmu tentang aku yang bisa mengerti kamu saat ini, akan
menjadi kesalahan terbesarmu, aku sama sekali sedang tak ingin mengerti apapun
kecuali kamu ada di depan mukaku lalu coret hubungan jarak jauh ini.
Mau gak mau, hubungan ini pasti ada masa kadaluarsa. Dan aku
rasa, sudah waktunya hubungan ini mendapat kontrol. Panjang jika harus aku bahas
manisnya tiga tahun kebelakang. Dan singkat saja saat ini aku merasa harus
membuka logika. Bukan masalah komunikasi, tapi ini semua tentang komunikasi.
Bukan masalah jauh, tapi kita ini berjarak. Bukan masalah waktu, tapi kita ini
dipertemukan hanya satu bulan sekali tak pasti. Bukan masalah baiknya aku atau
kamu, tapi tentang adanya aku atau kamu saat masing-masing membutuhkan sosok.
Aku simpulkan bulan maret ini bukan untuk kita. Bagaimana
jika kita berjalan dengan agenda masing-masing saja. Kamu bekerja untuk
perbaiki beberapa masalahmu. Kamu selesaikan sidangmu yang tertunda terus
tertunda. Kamu dekatkan diri dengan orang-orang sekitarmu, orang terdekat bukan
orang berjarak seperti denganku.
Aku akan berjalan dengan agenda pencaharianku, beberapa pekerjaan
yang menurutku menarik, lebih menarik dari soal cipularang dengan hujan lebat
menyeramkan. Aku akan membuat banyak agenda dengan kawanan penulis dan perupa
yang ada dalam satu project ke depan. Aku akan curahkan pikiranku untuk
menyusun sejarah lima tahunku di bangku kuliah, aku akan mengikuti kelas-kelas
dengan banyak teori yang aku tinggalkan dulu. Aku akan bertemu dengan
orang-orang baru dan berinteraksi lebih “intim”
dengan mereka. Aku ingin lebih dekat dengan rasaku sendiri. Mengenal apa
yang aku mau, mengejar apa yang aku mau, melihat banyak manusia baru, merasakan
banyak hal baru tanpa beban pikirkan kamu. Ya aku pikirkan kamu selama ini,
bagaimana menjaga kamu dalam ratusan kilometer.
Terimakasih kamu sudah belajar marah padaku, karena itu
sebuah kenormalan. Maaf jika kemarahanmu hanya aku respon lewat tulisan, karena
aku perempuan sulit sembunyikan kesedihan.
#tulisan satu untuk bulan kelabu, malam ini 1 maret 2012
(ini adalah ungkapan wanita yang selama 3 tahun ini
mendampingi w. walau memang w diposisi tidak selalu di sampingnya. Segitunya kah
hubungan ini membuat dia merasa seperti itu. Memang salah klo w mempertahankan
hubungan yang dah w janjikan sama diri w. memang salah harus dibatasi oleh
jarak, memang salah jika kita mencintai orang yang jauhnya ratusan kilometer
itu????)
Entah !!!
Ya cinta memang harus d pertanggung jawabkan, dan banyak
pula cara untuk mempertanggung jawabkanya. Mungkin memang terlihat salah di
beberapa bagian, tapi apakah sekecil itu rasa yang di berikan Tuhan sama kita. Apakah
pembatasan itu pula membatasi semuanya, entah. Ya hubungan kita memang terlalu
mudah pada awalnya. Tp ingatkah kita sudah sama-sama berjanji di awal, kita bisa
menjaga semuanya. Bukan hanya untuk sebuah rasa, dan tanpa membatasi rasa itu
sendiri.